CALISTUNG kepanjangan dari Baca Tulis Hitung.
Sekarang ini menjadi impian para orang tua untuk putra - putrinya. Bagaimana tidak ? Melihat si kecil bisa membaca, menulis dan berhitung tentu mendatangkan kebanggan tersendiri bagi orang tua. Tahukah mom's , jika orang tua tidak tepat mengajarkan calistung , hal ini akan membawa dampak negatif bagi perkembangan mental si kecil.
Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, calistung tidak diperbolehkan dalam kurikulum pendidikan anak usia dini. Sebab, idealnya anak-anak murid siswa pada usia PAUD hanya dikenalkan huruf dan angka tanpa harus dipaksa membaca dan berhitung.
Berdasarkan pada aturan hukum yang diatur dalam Permendiknas RI No. 58 TAHUN 2009 tentang
Standar Pendidikan Anak Usia Dini. Ada 4 tingkat pencapaian terkait dengan kemampuan calistung bagi anak usia 4-6 tahun, yaitu:
- Pura-pura membaca cerita bergambar dalam buku dengan kata-kata sendiri.
- Berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung.
- Membaca nama sendiri.
- Menuliskan nama sendiri.
Berdasarkan Permendiknas ini, kemampuan tertinggi yang diharapkan dari anak murid lulusan TK adalah membaca dan menulis namanya sendiri. Inipun cukup nama pendek, sekedar mengenali namanya dan memberi nama lembar kerjanya.
Mengapa pemerintah melarang pengajaran calistung secara langsung? Apa ruginya anak belajar calistung? Bukankah hal ini membantunya menguasai pelajaran SD? Bukankah makin terpakai otak, makin meningkat kecerdasannya?
Memaksakan anak menguasai calistung pada usia dini justru akan merusak kecerdasan mentalnya. Ia mungkin tampak jenius secara kognitif, namun fungsi otak lainnya akan terganggu.
Otak manusia tidak hanya berfungsi untuk mengolah informasi kognitif, namun juga nalar dan karakter (akhlaq). Apabila kemampuan nalar dan akhlaq rendah, maka kemanusiaan akan jatuh pada titik nadir.
Apakah anak usia dini sama sekali dilarang belajar calistung? Belajar calistung secara tidak langsung diperbolehkan. Contohnya adalah :
- Melihat ibunya menghitung gelas untuk menjamu tamu.
- Melihat kakaknya menikmati membaca buku.
- Menghitung jumlah anggota dalam sebuah permainan kelompok.
Mengajarkan anak-anak berhitung masih diperbolehkan, asalkan disampaikan dengan cara yang menyenangkan dan disukai anak. Misalnya dengan menjejer beberapa gambar hewan peliharaan sambil menyebutkan jumlahnya, atau mengenalkan warna-warna dasar.
yang terpenting dalam mendidik anak adalah kemampuan bersosialisasi dab berinteraksi terhadap lingkungan.
Nah Mom's, sedikit Informasi bahwa kini muncul juga di Karawang sate olahan Aqiqah Murah Karawang. Aqiqah Karawang NurulHayat adalah layanan aqiqah siap saji yang mempermudah masyarakat melaksanakan ibadah aqiqah tanpa ribet .Selain untuk acara aqiqahan, sate dari Nurul Hayat ini juga bisa disajikan untuk berbagai macam acara seperti hajatan, pengajian, atau event lainnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar